Konten web dan media sosial dapat bertahan lama dengan meningkatkan siklus hidupnya. Rancang siklus konten, bahkan sebelum Anda membuat kontennya itu sendiri!

Content online tidak pernah tidur.

Ada jutaan content yang dipublish setiap harinya di website, blog, facebook, pinterest, Google+, Instagram, dan beragam jenis media sosial lainnya. Informasi dari personal, perusahaan, atau komunitas dengan segala kepentingannya bersaing satu sama lain agar bisa tepat sasaran. Beragam update status, foto, video, berita, info dan tips lainnya dibagikan ke seluruh dunia dengan siklus yang sangat cepat.

Ini yang terjadi di internet dalam waktu 1 menit saja!

Sumber Gambar: Qmee

Sumber Gambar: Qmee

Terdapat 571 blog post di wordpress, 278 twit, dan 3600 foto yang diunggah di instagram setiap menitnya. Bisa Anda bayangkan berapa banyak konten yang disebar setiap harinya? Bisa saja konten yang Anda buat hanya dilihat judulnya saja tanpa diklik. Mungkin terselip di halaman google search yang kesekian. Atau bahkan, konten yang Anda buat sama sekali tidak dapat ditemukan di mesin pencari.

Apa yang terjadi?

Jawabannya karena terdapat persaingan content yang sangat ketat di internet! Kini, brand melakukan pendekatan yang lebih menyeluruh pada konten marketing yang terhubung secara lebih efektif dengan semua stakeholder website dan media sosial.

Kecepatan website, teknologi baru, beragam channel, platform, dan media sosial terus muncul dan menjadi tantangan baru untuk iklim bisnis saat ini. Tuntutan ini membuat para marketers perlu fokus pada model konten yang lebih menyeluruh, strategi untuk mengoptimalkan konten, dan saluran yang tepat untuk mengukur dampaknya.

Strategi online lifecycle dianggap lebih bisa berkompetisi di era media sosial yang sulit diprediksi, terutama algoritma google search dan bagaimana hal tersebut berdampak pada  strategi SEO.

Strategi online lifecycle terkait dengan rencana siklus hidup sebuah content. Siklus hidup konten fokus pada cara membuat konten agar bisa bekerja sesuai dengan strategi manajemen content yang telah dibuat. Hal ini membutuhkan perubahan dari sekedar model “Membuat, Menyetujui, Publikasi” di website brand menjadi model dua arah, membentuk lingkaran sebagai sebuah siklus.

Apa saja siklus hidup sebuah content? Intinya adalah sebagai berikut.

 

Siklus Hidup Content #1 Perencanaan

Dimulai dengan perencanaan konten. Dalam tahap ini, Anda perlu melakukan proses audit, analisa, dan strategi.

Seperti halnya ketika akan membuat bangunan atau rumah, seorang arsitek dan teknisi akan mulai bekerja dari apa yang telah direncanakan, tidak hanya unsur dimensionalnya saja, tapi mengukur juga tentang ventilasinya, suhu ruangan, saluran air, dan jalur pembuangan. Begitu juga dengan content dalam strategi content marketing. Seorang perencana konten harus membuat blueprint dimana desainer, penulis, dan developer lainnya bisa membuat model yang baik untuk proses publikasi content.

Ciptakan iklim yang baik untuk konten Anda. Ketahui dengan jelas dengan apa Anda bisa memulainya. Persediaan konten adalah langkah terbaik untuk memulai menciptakan iklim ini. Persediaan konten yang menyeluruh harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Berapa banyak dan apa jenis konten yang Anda miliki?
  • Apa yang terjadi di media sosial atau blog komunitas perusahaan Anda?
  • Apa yang akan dipromosikan atau berencana dipromosikan di website dan melalui pihak ketiga?
  • Apa artikel atau siaran pers telah komunikasi perusahaan dirilis?
  • Apa konten offline, termasuk brosur dicetak dan kampanye siaran, telah dibuat?
  • Apa jenis CMS yang Anda gunakan?
  • Apa jenis template telah dibuat?
  • Bagaimana struktur dari CMS?

 

Baca Panduan  Bagaimana Membuat Konten Yang Berkualitas

Siklus Hidup Content #2 Pembuatan Content

Tulis konten!

Word Document adalah metode paling populer untuk menulis konten. Ciptakan konten yang baik dalam sistem website Anda. Setelah Anda membuat konsep kasar dari sebuah konten, taburi dengan SEO keyword yang tepat ke dalam konten. Kemudian, mintalah tanggapan ke rekan-rekan terhadap tulisan atau konten Anda. Revisi dan kirimkan kembali untuk persetujuan. Dari sana, sebuah konten dibuat, diedit, disetujui, baru kemudian dipublikasikan.

 

Siklus Hidup Content #3 Publikasi Content 

Mempublikasikan konten ke dalam sistem manajemen konten bisa Anda lakukan sendiri, atau punya admin khusus untuk melakukannya. Namun, meskipun demikian, Anda tidak dapat lepas tangan begitu saja. Jika terjadi hambatan di website Anda, perubahan CMS, patch, atau proses dan kode baru, Anda tetap bertanggung jawab untuk mengkonsultasikannya pada ahli. Hal tersebut untuk quality control.

Pekerjaan Anda belum selesai sampai sana. Setelah dipublikasikan, sebuah konten perlu diukur berdasarkan pengukuran yang dioptimalisasi. Strategi perlu kembali disesuaikan berdasarkan pada keberhasilan atau kegagalan konten dari tujuan yang telah direncanakan.

Barulah dibuat perencanaan baru untuk konten selanjutnya. Hal tersebut terus berulang, tidak berhenti pada satu tahap saja.

 

Siklus Hidup Content #4 Analisis Content 

Sekarang Anda telah mengumpulkan informasi, saatnya untuk menganalisis semua itu. Anda dapat juga menggunakan tools untuk mengetahui feedback dari customer. Analisis data perlu dilakukan lebih dari hanya melihat pola traffic dan tampilan halaman, Anda harus melihat customer Anda datang darimana dan di bagian mana mereka menyukai isi website Anda. Cari tahu nilai dari konten yang telah Anda buat yang bisa menarik customer.

Kemudian, buat diagram konten. Konten jenis apa untuk dipublikasikan ke media atau channel mana dan seperti apa bentuknya disesuaikan dengan platform. Perhatikan target audiens Anda, dan sesuaikan gaya bicara atau bahasa penyampaiannya. Agar mereka lebih bisa relate dan percaya pada brand Anda.

 

Siklus Hidup Content #5 Pengarsipan Content 

Konten yang tidak dirawat dengan baik dapat menghancurkan sebuah situs website, dan tentu saja brand Anda. Dalam hal ini, konten perlu direvisi agar tidak usang. Perlu adanya pemantauan dan pengukuran untuk melihat apakah user website Anda telah bereaksi, mengomentari, dan membagikan konten tersebut.

Setelah dipublikasikan, tanyakan juga hal-hal ini pada diri Anda sendiri sebagai bahan analisis.

  • Apakah target pasar Anda menemukan konten yang Anda buat?
  • Apakah mereka membeli produk atau jasa Anda?
  • Apakah call center Anda mengalami lebih banyak panggilan atau justru berkurang?
  • Apakah pakar industri berbicara tentang perubahan situs Anda?
  • Apakah ada buzz yang dihasilkan?
  • Pendekatan apa yang Anda miliki untuk mengevaluasi hal tersebut?

 

Ketika menganalisis sebuah konten, Anda pasti menemukan adanya kritik atau feedback yang negatif dalam website Anda. Meskipun Anda perlu mengurangi kritik untuk penguatan sebuah brand, justru proses feedback dalam website dan social media ini penting untuk mengetahui dampak dari pertumbuhan bisnis Anda. Interaksi yang menarik dan kuat dari customer di website dan sosial media perlu dijaga.

Baca Panduan  Membangun Brand Channel Anda

Intinya, ada 4 hal penting dari konten yang harus dipatuhi dalam realitas konten online saat ini. Berikut ulasannya.

  1. Bangun Konten yang Lebih Holistic.

Konten yang lebih menyeluruh membuat Anda lebih efektif terkoneksi dengan beragam media sosial, forum-forum komunitas, dan influencer.

 

  1. Biarkan Seluruh Tim Ikut Bekontribusi dalam Konten.

Dengan melibatkan seluruh tim dalam perusahaan Anda dalam media sosial, akan memberikan kesempatan untuk terhubung dengan lebih banyak pelanggan. Dengan kata lain, jangkauan online Anda lebih luas lagi. Pastikan untuk mengurangi hambatan teknologi untuk mempermudah hal tersebut.

 

“Semakin banyak orang yang mampu memberikan kontribusi dengan mudah, semakin banyak konten untuk mengembangkan channel Anda”

 

  1. Publikasikan Konten yang Fresh, Menarik, dan Tepat Waktu.

Konten yang dipublikasikan fresh, menarik, relate, dan tepat waktu akan membuat pengunjung ingin selalu mengunjungi situs Anda. Pastikan untuk memperpanjang siklus konten Anda dengan mempublikasikannya ke seluruh jenis media sosial. Ini membuat website Anda menjadi web terpercaya dan sangat relate  dengan pelanggan.

 

  1. Optimalkan Wacana di Forum-Forum Customer Anda.

Coba dengarkan apa yang user brand Anda perbincangkan di media sosial atau forum-forum untuk memperluas wawasan. Anda bisa mengoptimalkan konten dan strategi konten berdasarkan apa yang mereka perbincangkan tersebut. Tetapkan tujuan untuk setiap konten yang Anda buat, seperti halnya strategi pemasaran tradisional. Lacak dan ukur hasilnya lebih dalam. Untuk melengkapi siklus konten Anda, terus lakukan menguji ide-ide baru, dan mengoptimalkan apa yang sebelumnya belum optimal.

 

Tips

Menggunakan satu atau empat langkah tersebut membantu Anda memposisikan konten Anda untuk segera membuat strategi kontennya. Namun, jangan menunggu untuk memulai! Semakin cepat memulai, akan semakin cepat juga Anda melihat hasilnya.

 

Persaingan konten di internet juga dapat disiasati dengan strategi berikut:

How to Optimize Contents on your Brand Channels

How to Create Content with Great Keywords

How to Create Good Contents

 

Memperpanjang siklus hidup sebuah konten adalah salah satu cara agar konten yang Anda buat tidak hilang begitu saja tanpa mendapat feedback. Siklus hidup sebuah konten dimulai dari perencanaan, pembuatan konten, pengaturan atau editing konten, hingga proses publikasi. Namun, pembuat konten tidak cukup hanya membuat konten hingga dipublikasikan saja, tapi lebih jauh dari itu.

Feedback dan strategi publikasi harus terus dipantau dan direncanakan kembali jika ada yang tidak optimal. Sebuah content bertahan lama dapat dilakukan dengan membuat siklus hidup mereka terus diperhatikan dan dioptimalkan di setiap tahap siklusnya.

Manajemen siklus hidup content seperti layaknya sebuah kebun, setiap orang menginginkan apa yang ditanamnya berbunga atau berbuah banyak. Anda tidak bisa membuat sebuah konten di website, lalu meninggalkannya begitu saja. Benih yang Anda tanam di kebun, mungkin bisa saja berbuah dan berbunga tanpa ditunggui. Namun, tidak dengan konten. Anda harus memperhatikan konten yang Anda buat dengan rutin agar bisa tetap bisa bertahan lama.

Itulah pentingnya siklus hidup konten atau content lifecycle.